Postingan

Penjajah Jaman

Gambar
  Seperti ini rupa kau? Muka dekil, lusuh, badan kering keronta. Membungkuk dalam lemah penuh sesal, Bagai daun remuk tertampar angin.   Aku bertanya... Dimana mahkota hina yang kau pernah bicara? Dan mana kepingan laknat yang kau pernah megah?   Pernakah kau renungkan? Sudah benarkah jiwamu; kemana saja jiwa terkutuk itu menilik serpihan dosa busukmu; ingat di mana awal kaki bobrok itu menapak.   Tengoklah wanita renta bermuka mjuram nan lusuh, Tengah nerintih di balik sujudnya. Sadarkah kau atas apa yang tengah ia rintihkan selama ini? Sudah lupakah kau saat kedua mata bak berlian itu tertutup selamanya?   Apa yang akan kau lakukan selepas ini? Mulut sudah sobek oleh dusta, telinga parau karena nista. Kemana kaki butut itu akan melangkah? Berjalan di atas pundi-pundi terang atau diam di atas kebodohan?   Selamat, Kita akan bertemu di akhir waktumu. Puisi oleh: Kartika Sari Ditulis pada: tahun 2018

Jeritan Waktu

Gambar
Kita ini bergantian menggores waktu, menapak jaman dan menabur serut kisah di atas waktu. Manusia bukan lagi manusia, dan alam bukan lagi alam. Gubuk jadi istana, samudera jadi gurun, dan bumi setinggi langit.   Kala waktu berteriak, meronta, dan menangis, kita beringas dengan buah tangan sendiri. Kita ini sebenarnya apa? Sosok yang ditampar oleh takdir, tuli oleh jeritan waktu, atau buta oleh dunia?   Lihatlah di balik cermin itu! Sosok lumpuh dan terseok yang selalu merasa beruntung. Sementara sendirinya tak tau, waktu tengah marah, terbatuk ceru, dan tergerus oleh ulah.   Mengapa kita lupa rasanya hidup bersama? Bersatu jua membentuk kisah? Bagai jiwa terlepas dari raga, hancur lebur di balik tamaknya dunia.   Ingatlah kita yang selalu, terperosok kenyataan, terombang-ambing oleh uang, dan membisu oleh ucapan.   Mengapa kita lari saat yang lain melebur oleh dunia? Dan mengapa yang lain lari saat kita membeku oleh ha...