Jeritan Waktu
Kita ini
bergantian menggores waktu,
menapak jaman
dan menabur serut kisah di atas waktu.
Manusia bukan
lagi manusia, dan alam bukan lagi alam.
Gubuk jadi
istana, samudera jadi gurun, dan bumi setinggi langit.
Kala waktu berteriak,
meronta, dan menangis,
kita beringas
dengan buah tangan sendiri.
Kita ini
sebenarnya apa?
Sosok yang
ditampar oleh takdir, tuli oleh jeritan waktu, atau buta oleh dunia?
Lihatlah di
balik cermin itu!
Sosok lumpuh
dan terseok yang selalu merasa beruntung.
Sementara
sendirinya tak tau, waktu tengah marah, terbatuk ceru, dan tergerus oleh ulah.
Mengapa kita
lupa rasanya hidup bersama?
Bersatu jua
membentuk kisah?
Bagai jiwa
terlepas dari raga, hancur lebur di balik tamaknya dunia.
Ingatlah kita
yang selalu,
terperosok
kenyataan, terombang-ambing oleh uang, dan membisu oleh ucapan.
Mengapa kita
lari saat yang lain melebur oleh dunia?
Dan mengapa
yang lain lari saat kita membeku oleh harta?
Mengapa semua
lari seolah di ujung akan ada cinta yang cerah?
Biarlah
ketamakan melebur dalam kenangan waktu,
menyisakan
serut-serut kepedihan dalam sejarah.
Dan biarlah
waktu yang menjawab dunia.
Puisi oleh: Kartika S.
Ditulis pada: tahun 2019

Komentar
Posting Komentar